7 Oktober 2008
Seorang teman pernah berkata bahkan seorang pemikir sejatipun butuh candu…
Awalnya aku memungkiri menyukai bertumpuk-tumpuk buku yang baru aku beli, dan aku lahap dalam satu dua hari. Aaargh…sangat “girl-fan” sekali!.
Tapi lalu semuanya buyar…ketika menyadari si empunya tulisan punya fantasi. Punya konsep yang ia sendiri yakin bisa mengubah isi dunia dengan tulisannya yang aku anggap “cemen”!. Industri hanya bagian kecil dari mimpinya yang terejawantahkan.
Lalu aku mencoba menghargainya sebagai bentuk apresiasi…
Aaaahh…what the hack!!, ruang kosong di benakku butuh diberi madu jangan selalu anti-biotik dan anti depressan yang buat aku jadi ngilu-ngilu!
So…Meyer, let’s see what u’re gonna do with me?! ;-)
Sabtu, 11 Oktober 2008
KOMEDI atu TRAGEDI ??
6 Oktober 2008
Masih ingat trio Larry. Curly, dan Moe?. Yup, gambar hitam putih yang begerak-gerak saling menampar dan saling melempar pie, yang kita kenal dengan Three Stooges. Joke-nya membuat kita ketawa terpingkal-pingkal. Moe si leader dengan rambut batok kelapa dan karakternya yang kasar dan berkuasa. Nggak ada bosan-bosannya memukuli Curly si bodoh yang selalu salah melakukan perintah. Ada juga Larry si actor pasif, yang tadinya mau melerai kehebohan Moe dan Curly, tapi malah ikut bergelut dan merusak barang-barang disekitarnya. Atau sekedar melampiaskan kepasifannya dalam bentuk ancaman terhadap Curly dan balasan terhadap Moe.
Di wilayah local ada Warkop DKI dan Benyamin S, masih dengan ramuan slapstick yang sama. Naik tangga lalu jatuh. Belum cukup sakit karena jatuh masih harus menanggung ditimpa satu gallon cat mengguyur sekujur tubuh. Disusul dengan komedian-komedian lainnya hingga saat ini yang hadir seperti panu.
Ya, di ranah komedi anak-anak ada kartun macam Donald Duck dan Tom and Jerry.
Suatu saat Donald harus menerima resiko ditipu oleh keponakan-keponakannya yang bandel, saat mereka tidak terima diakali oleh kelakuan pamannya yang kadang licik. Dimulailah strategi pembalasan para keponakan dengan mengumpankan Uncle Donald pada beruang Grizzlies. Fiuuh…sadis betul!.
Belum Tom and Jerry yang nggak ada habis-habisnya saling berkejaran dan saling “membunuh”. Mitos kucing yang katanya punya sembilan nyawa sudah membohongi kita Kalau ta pikir-pikir mungkin nyawanya sudah habis selama masa penayangannya dari tahun 1946 sampai 1950. Dengan kemungkinan setiap adegan Tom mati “dibunuh” Jerry, baik disengaja atau tidak.
Semua bentuk komedi yang kita tonton setiap hari, dari mulai gambarnya masih hitam putih sampai era “Sponge Bob” dengan warna-warnanya yang menusuk mata, adalah bukti nyata kebutuhan manusia akan komedi.
Berbagai kritik terhadap violent and their unsophisticated comedy telah dilayangkan bahkan sejak Three Stooges pertama kali muncul pada tahun 1934. Bahkan sejak pendahulunya, mbah Charlie Chaplin di tahun 1889. Tapi tidak lantas panggung komedi dibredel begitu saja. Bahkan bentuk lawakan makin beragam, yang tadinya cuma pantomim dan bisu, lalu muncul pelawak-pelawak panggung (standing comedian), seperti Robin Williams, Steve Martin, Johnny Carson, W.C. Fields, Eddie Murphy, dan masih banyak lagi yang lebih berani tampil dipanggung tanpa naskah.
Munculnya kritik dan bahkan celaan terhadap bentuk komedi yang memuat adegan kekerasan juga diirngi dengan penghargaan dari para penggemar aksi komedian-komedian itu. Bahkan di tahun 1965 muncul generasi “Stoogemania” sebagai representasi keberhasilan Three stooges menjadi tayangan terlaris pada masanya.
Belum lagi di Negara kita yang begitu haus akan “hiburan”. Hawa-hawa kekerasan dan pelecehan seksual dalam tayangan komedi juga diyakini sebagai sebagai ramuan “penglaris”.
Komedi pada jamannya adalah refleksi karakter manusia. Komedi di panggung adalah gambaran peradaban dan produk peradaban.
Kalau dipikir-pikir, bukankah hidup ini juga seperti komedi?. Pada masanya manusia butuh melakukan kekerasan sebagai bagian dari bertahan hidup, sama seperti binatang. Manusia juga butuh tertawa sebagai bagian dari ekspresi tidak sadarnya, itu yang coba dikemukakan oleh Carl Gustav Jung dengan Collective Unconsciusness-nya.
Namun sampai dimana komedi telah mempengaruhi sendi kehidupan manusia hingga jadi yang paling penting?. Komedi dan tragedi. Itulah yang membangun peradaban manusia dari dulu hingga sekarang. Dengan kekerasan menyertainya??
Quel Horreur!!...
Dari dulu hingga sekarang semua makhluk bertahan hidup. Dengan pembenaran apapun. Bahkan nyata di depan hidung kita, dogma agama membenarkannya. Dari tahun 1099 dengan pecahnya perang salib hingga 2008 dengan adanya laskar ”pembenaran”. Rasanya malah lebih kejam...ketika pembantaian dilakukan atas nama agama yang mengajarkan cinta, kelembutan dan pengampunan.
Tapi tidak salah kalau mengingat refleksinya adalah komedi dan tragedi yang dari dulu hingga sekarang tetap ada. Dari mulai sejarah panggung komedi hingga tokoh kartun yang ditonton anak-anak kita selama 12 jam sehari!.
Jadi jangan lupa tertawa...saat kita menyaksikan adegan pembantaian lagi, lagi, dan lagi!. Karena hidup ini toh hanya komedi kan?...
Masih ingat trio Larry. Curly, dan Moe?. Yup, gambar hitam putih yang begerak-gerak saling menampar dan saling melempar pie, yang kita kenal dengan Three Stooges. Joke-nya membuat kita ketawa terpingkal-pingkal. Moe si leader dengan rambut batok kelapa dan karakternya yang kasar dan berkuasa. Nggak ada bosan-bosannya memukuli Curly si bodoh yang selalu salah melakukan perintah. Ada juga Larry si actor pasif, yang tadinya mau melerai kehebohan Moe dan Curly, tapi malah ikut bergelut dan merusak barang-barang disekitarnya. Atau sekedar melampiaskan kepasifannya dalam bentuk ancaman terhadap Curly dan balasan terhadap Moe.
Di wilayah local ada Warkop DKI dan Benyamin S, masih dengan ramuan slapstick yang sama. Naik tangga lalu jatuh. Belum cukup sakit karena jatuh masih harus menanggung ditimpa satu gallon cat mengguyur sekujur tubuh. Disusul dengan komedian-komedian lainnya hingga saat ini yang hadir seperti panu.
Ya, di ranah komedi anak-anak ada kartun macam Donald Duck dan Tom and Jerry.
Suatu saat Donald harus menerima resiko ditipu oleh keponakan-keponakannya yang bandel, saat mereka tidak terima diakali oleh kelakuan pamannya yang kadang licik. Dimulailah strategi pembalasan para keponakan dengan mengumpankan Uncle Donald pada beruang Grizzlies. Fiuuh…sadis betul!.
Belum Tom and Jerry yang nggak ada habis-habisnya saling berkejaran dan saling “membunuh”. Mitos kucing yang katanya punya sembilan nyawa sudah membohongi kita Kalau ta pikir-pikir mungkin nyawanya sudah habis selama masa penayangannya dari tahun 1946 sampai 1950. Dengan kemungkinan setiap adegan Tom mati “dibunuh” Jerry, baik disengaja atau tidak.
Semua bentuk komedi yang kita tonton setiap hari, dari mulai gambarnya masih hitam putih sampai era “Sponge Bob” dengan warna-warnanya yang menusuk mata, adalah bukti nyata kebutuhan manusia akan komedi.
Berbagai kritik terhadap violent and their unsophisticated comedy telah dilayangkan bahkan sejak Three Stooges pertama kali muncul pada tahun 1934. Bahkan sejak pendahulunya, mbah Charlie Chaplin di tahun 1889. Tapi tidak lantas panggung komedi dibredel begitu saja. Bahkan bentuk lawakan makin beragam, yang tadinya cuma pantomim dan bisu, lalu muncul pelawak-pelawak panggung (standing comedian), seperti Robin Williams, Steve Martin, Johnny Carson, W.C. Fields, Eddie Murphy, dan masih banyak lagi yang lebih berani tampil dipanggung tanpa naskah.
Munculnya kritik dan bahkan celaan terhadap bentuk komedi yang memuat adegan kekerasan juga diirngi dengan penghargaan dari para penggemar aksi komedian-komedian itu. Bahkan di tahun 1965 muncul generasi “Stoogemania” sebagai representasi keberhasilan Three stooges menjadi tayangan terlaris pada masanya.
Belum lagi di Negara kita yang begitu haus akan “hiburan”. Hawa-hawa kekerasan dan pelecehan seksual dalam tayangan komedi juga diyakini sebagai sebagai ramuan “penglaris”.
Komedi pada jamannya adalah refleksi karakter manusia. Komedi di panggung adalah gambaran peradaban dan produk peradaban.
Kalau dipikir-pikir, bukankah hidup ini juga seperti komedi?. Pada masanya manusia butuh melakukan kekerasan sebagai bagian dari bertahan hidup, sama seperti binatang. Manusia juga butuh tertawa sebagai bagian dari ekspresi tidak sadarnya, itu yang coba dikemukakan oleh Carl Gustav Jung dengan Collective Unconsciusness-nya.
Namun sampai dimana komedi telah mempengaruhi sendi kehidupan manusia hingga jadi yang paling penting?. Komedi dan tragedi. Itulah yang membangun peradaban manusia dari dulu hingga sekarang. Dengan kekerasan menyertainya??
Quel Horreur!!...
Dari dulu hingga sekarang semua makhluk bertahan hidup. Dengan pembenaran apapun. Bahkan nyata di depan hidung kita, dogma agama membenarkannya. Dari tahun 1099 dengan pecahnya perang salib hingga 2008 dengan adanya laskar ”pembenaran”. Rasanya malah lebih kejam...ketika pembantaian dilakukan atas nama agama yang mengajarkan cinta, kelembutan dan pengampunan.
Tapi tidak salah kalau mengingat refleksinya adalah komedi dan tragedi yang dari dulu hingga sekarang tetap ada. Dari mulai sejarah panggung komedi hingga tokoh kartun yang ditonton anak-anak kita selama 12 jam sehari!.
Jadi jangan lupa tertawa...saat kita menyaksikan adegan pembantaian lagi, lagi, dan lagi!. Karena hidup ini toh hanya komedi kan?...
Senin, 15 September 2008
Banyak mengeluh...fuuuhh...
Mengeluh...lagi-lagi mengeluh...selalu mengeluh...dan banyak mengeluh...
bukankah dengan jujur terhadap diri sendiri kita bisa mengurangi keluhan....
kalau gak mau...cukup bilang gak mau, kalau lapar cukup bilang lapar, kalau sedih cukup bilang sedih, kalau tidak perlu cukup menolak...
mungkin dengan jujur terhaap diri sendiri...satu-satunya jalan terbaik untuk mengharagai diri sendiri...dan berhenti mengeluh!!!
bukankah dengan jujur terhadap diri sendiri kita bisa mengurangi keluhan....
kalau gak mau...cukup bilang gak mau, kalau lapar cukup bilang lapar, kalau sedih cukup bilang sedih, kalau tidak perlu cukup menolak...
mungkin dengan jujur terhaap diri sendiri...satu-satunya jalan terbaik untuk mengharagai diri sendiri...dan berhenti mengeluh!!!
Berita Duka...
Hari ini 21 orang meninggal di Pasuruan...akibat berdesak-desakkan mengantri zakat.
Inalillahi...
Ada apa dengan orang-orang? sudah sebegitu mendesakkah kebutuhan masyarakat sampai nyawa bisa dengan mudah dipertaruhkan...untuk uang sebesar Rp. 30.000,-?!
Tapi lagi-lagi...saya juga tidak bisa melakukan apa-apa!.
Inikah yang dimaksud Nietzsche dengan...Ubermensch?!. Mengganti peradaban dengan orang-orang unggulan yang sanggup bertahan lebih lama?!...
Ironi...ketika pemerintah pun tidak menawarkan solusi apapun. Cerita hari ini akan berakhir berganti cerita besok, terus begitu sepanjang waktu. Lantas bagaimana...jika salah satu korbannya kita?.
Semoga arwah mereka yang meninggal diterima disisi Allah SWT!.
Inalillahi...
Ada apa dengan orang-orang? sudah sebegitu mendesakkah kebutuhan masyarakat sampai nyawa bisa dengan mudah dipertaruhkan...untuk uang sebesar Rp. 30.000,-?!
Tapi lagi-lagi...saya juga tidak bisa melakukan apa-apa!.
Inikah yang dimaksud Nietzsche dengan...Ubermensch?!. Mengganti peradaban dengan orang-orang unggulan yang sanggup bertahan lebih lama?!...
Ironi...ketika pemerintah pun tidak menawarkan solusi apapun. Cerita hari ini akan berakhir berganti cerita besok, terus begitu sepanjang waktu. Lantas bagaimana...jika salah satu korbannya kita?.
Semoga arwah mereka yang meninggal diterima disisi Allah SWT!.
Berita Duka...
Hari ini 21 orang meninggal di Pasuruan...akibat berdesak-desakkan mengantri zakat.
Inalillahi...
Berita Duka...
Hari ini 21 orang meninggal di Pasuruan...akibat berdesak-desakkan mengantri zakat.
Inalilla
Rabu, 20 Agustus 2008
Di sebuah institusi pelayanan masyarakat….
Semua orang tersenyum...maniiiiiss sekali, bahkan diantaranya membukakan pintu untuk aku dan Citta. Padahal qta berdua belum mandi, cuma pakai baju tidur doank...bahkan Citta belum mandi for about two days, karena badannya kemarin sempat panas. Qta cuma mau bayar telephone siiih...yang katanya disini on-line. And then petugas jaga melayani qta dengan sangat sangat ramah, kalimat ini tidak dilebih-lebihkan karena memang begitu kenyataannya. Waaahhh...mudah-mudahan tidak ada yang ”berbau busuk” disini!. I mean, something doing with politics. Bagaimana tidak, masyarakat seperti aku menjadi sangat apatis terhadap ”willing to do politics” ketika memang semuanya serba dilebih-lebihkan ato istilahnya lebayyyy!!. Semuanya seolah-oleh bersikap amat peduli terhadap kebutuhan masyarakat, begitu concern terhadap problem yang dihadapi masyarakat, simple-nya bahkan untuk unit pelayanan saja yang biasanya minta ampun crowded , tiba-tiba dibuat sebegitu nyamannya untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kritik sosial. Alhamdulillah kalau ini memang progress pelayanan masyarakat, jangan jadi tentative sifatnya. Dan memang kalau disadari, hal-hal seperti ini sifatnya periodik, menjelang momen-momen tertentu. Aaaaahhh...”abdi mah jalmi alit” tidak paham dengan teori-teori politik macam itu. Namun yang pasti semoga semua ini tidak ada hubungannya dengan agenda besar perpolitikan bangsa kita di tahun 2009 nanti.
Lalu aku dan Citta melewati para petugas yang berdandan layaknya sinden itu...sadarlah aku hari ini adalah hari ultah instansi tersebut. Happy Birthday anyway!. Tapi semoga saja kinerja ini berlanjut terus yaaa...bukan momen ulangtahunnya saja. Alhamdulillah, theres nothing to do with politics for sure.
ps: tanpa maksud apa-apa!!!
Lalu aku dan Citta melewati para petugas yang berdandan layaknya sinden itu...sadarlah aku hari ini adalah hari ultah instansi tersebut. Happy Birthday anyway!. Tapi semoga saja kinerja ini berlanjut terus yaaa...bukan momen ulangtahunnya saja. Alhamdulillah, theres nothing to do with politics for sure.
ps: tanpa maksud apa-apa!!!
Langganan:
Postingan (Atom)