Jumat, 02 Desember 2011

a beautician i am

Ruangan berbentuk nyaris segi empat ini berukuran 3x4 meter, dengan pencahayaan ala kadarnya dan sumber cahaya matahari hanya dr satu arah yaitu kusen depan.

Ruangan ini sangat konvensional awalnya, bisa jadi apa saja, dr mulai tempat kami beribadah hingga ruang kami menulis, mendengarkan musik atau berdiskusi. Apa saja dari gosip tetangga sebelah, kekalahan tim sepakbola kita, hingga industri musik dan kemonotonannya.

Secara historis, konon yg empunya rumah dulunya menggunakan ruangan ini sebagai garasi. Namun karena kami tak berpikir utk menimbun aset kendaraan banyak2, maka ruangan ini kami jadikan ruangan "sesuatu" :)

Satu tahun tinggal di rumah ini. Saya memutuskan ruangan ini, akan digunakan sebagai ruang kerja. Masalahnya, apa pekerjaan yang layak saya kerjakan di ruangan ini. Mengingat banyak profesi pernah saya coba geluti hehe...

Alhasil, ruangan "sesuatu" ini saya sulap jadi salon perawatan khusus untuk perempuan dan pengantin.

Tarik nafas, di ruangan ini saya tengah duduk sekarang. Di balik alat2 perawatan, berbotol2 kosmetik, etalase tempat saya menyimpan macam2 rempah dan kemasan2 kosmetik perawatan wajah. Hanger tempat menyimpan pakaian2 titipan teman, alat pembakar aromatherapy, patung kucing bertuliskan "welcome", lilin2 wangi.
Dan di sebelahnya saya menaruh rak buku, majalah dan deret buku2 pilihan, khusus untuk dibaca siapapun yang datang berkunjung ke ruangan ini.

Fyuuhh, jalan hidup sebagai seorang beautician yg akhirnya saya pilih sebagai profesi yang mengganda saya selain jadi seorang ibu.
Seorang teman pernah bertanya hampir tak percaya, waktu saya bilang, kali ini tengah bergelut di bidang salon perawatan wajah dan tubuh. Tak percaya, entah karena menyangsikan saya sanggup dipercaya sebagai beautician, atau sangsi terhadap profesi ini. Ah, kenapa memangnya jika ini profesi yang halal :)

Menjalaninya selama hampir satu setengah tahun dengan dipercaya ragam pelanggan, membuat saya semakin larut dalam aktifitas dan rasa percaya diri. Iliterate katanya, namun ini ruang pribadi. Jika Virginia Woolf menganggap "a room of her own" itu harus dimiliki oleh setiap perempuan utk menyelamatkan "kediriannya" saya sepakat. Namun menurut saya "a room of her own" itu tak melulu harus komersil dan menghasilkan uang. Added value yang bisa dihasilkan setiap orang akan membuat dirinya merasa berharga. Menjadi apapun dirinya di tengah masyarakat. Seorang ibu, seorang anak, penulis, wartawan, fotografer, asisten kurator, operator seluler, pengusaha kuliner, apapun. Yang paling penting adalah ia menyadari "nilai" yang dimilikinya di tengah masyarakat.

8 bulan yang lalu, saya buat acara sosial di Cigondewah dengan beberapa kawan sejati. Tanpa memisahkan profesi saya. Betulkah itu eskapasi. Tentu tidak, karena saya melakukannya penuh kesadaran. Kenapa memang jika seorang beautician, pengusaha salon perawatan melakukan pekerjaan sosial dan larut mengorganize acara musik dan diskusi, hehe :)

Betulkah ini pekerjaan yg iliterate? :) apapun asumsinya. Tak habis rasanya mensyukuri kehadiran ruangan ini, dan langganan2 setia yang selalu menyediakan waktu untuk merawat diri mereka, berdiskusi, baca buku, menikmati ruang baca kecil, menikmati ruang healing, dan menikmati cara saya berdiskusi dan bekerja untuk mereka.

Thank God I'm a beautician :)

2 komentar:

tflaneur mengatakan...

Suatu ketika gadis itu tiba2 melompat ke dalam cermin di kamar kubusnya, ia mengira cermin akan pecah. Namun bukannya pecah, ia menembus dunia baru yang membentang luas, cermin tadi adalah jendelanya. Gadis itu merasakan ketakjuban luar biasa, guncangan persepsi, lalu kemaha rendahatian akan dunia yang begitu luasnya, keinsyafan atas tak luasnya pengetahuan.

Lalu di dunia di balik cermin itu ia terperosok di lubang kelinci, meluncur sangat dalam. Ia mengira dirinya akan binasa, namun aha! Eureka! Di lubang kelinci itu ia temukan keajaiban, dimana fantasi-fantasinya adalah nyata. Lalu apapula itu fantasi jika semuanya adalah nyata? :)

Saat kita menikmati setiap detik hidup kita, maka setiap letupan, betapapun kecilnya adalah keajaiban, rayakan seperti kembang api di tahun baru. Bukankah keriangan hidup didapat dari ketakjuban yang didapat pada setiap detiknya? :) hehe.

Beautician menggabungkan yang fantasi dan yang nyata, membuat setiap detik yang cantik menjadi lubang kelinci yang didalamnya bertabur keajaiban tiada henti. Tentu saja kita bersyukur diberi kesempatan menjalaninya.

Selamat Alice!

Setiap detikmu adalah The Wonderland

Foggy Canopus mengatakan...

Bahkan di pabriknya Willy Wonka pun ternyata penuh banyak hitungan serba matematis. Ada garis-garis demarkasi yg tidak mudah dilewati.

Begitu katup ajaib lubang kelinci Alice wonderland terbuka, sim salabim warna warni tak lagi serupa pendar, namun titian seperti peta "kemana harus menuju".
Tanggung jawab ketokohan, tanggung jawab profesi, konsekuensi menjadi manusia nyata. Selamat!, beginilah hidup itu harusnya.

Seperti fiksi, nyata pun bisa dilukis warna, akan menjadi siapa yang bagaimana. Dengan banyak konsekuensi dan huru hara :)

Beautician hanya serupa proses, sama seperti seorang trader, penulis, fotografer, atau seorang ibu. Yang jumawa adalah isi nuraninya ;)